GELORA.CO - Pemilihan Umum 2019 Partai Golkar memang tidak menjadi pemenang utama, tapi Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto dinilai kembali menunjukkan kekuatan dengan meraih suara terbilang besar.
Meski berada di bawah PDIP, Golkar bisa meraih 85 kursi di DPR. Kepemimpinan Airlangga bisa terbilang mampu membalikkan keadaan di pemilu kemarin. Apalagi dalam periode 2014-2019, Golkar menghadapi turbulensi politik yang luar biasa besar.
Pengamat politik dari Universitas Bung Karno, Cecep Handoko menilai, trubulensi yang memang terbawa dari kasus Setya Novanto bisa distabilkan oleh Airlangga.
"Karena kita tahu, sebelum Airlangga menjabat memang sangat mencekam. Yang pada akhirnya membuat Golkar keteteran untuk itu," kata Cecep ketika dihubungi wartawan, Selasa (6/8).
Dia menyadari bahwa kepemimpinan Airlangga tidak terlalu lama setelah Setya Novanto, yang tersangkut kasus korupsi KTP elektronik. Dengan waktu yang singkat itu, Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga, kembali stabil. Riak politik internal tidak ada.
Sementara terkait dengan Munas Golkar yang sebentar lagi, Cecep melihat ada dua kekuatan pemerintah yang membela masing-masing kandidat. Hanya saja pemerintah sendiri bisa dilihat lebih condong ke salah satu kandidat.
"Baik Airlangga maupun Bambang Soesatyo keduanya sama-sama didukung. Hanya saja kita melihat siapa yang lebih punya peluang. Kita lihat saja Airlangga selalu all out ke pemerintah, membantu presiden," kata dia.
Sementara dia melihat meski Bamsoet memiliki kekuasaan di parlemen, relatif tidak ada terobosan.
"Airlangga lebih berpeluang, apalagi Airlangga lebih lebih loyal," kata dia.
Untuk itu, saran dia, Golkar jangan terlalu lama dengan polemik yang terjadi menjelang Munas Golkar. Sebaiknya ini segera disudahi. Karena ada sejumlah agenda besar yang dihadapi.
"Saya yakin polemik di internal, tidak akan panjang, karena mereka akan menghadapi agenda-agenda besar, Airlangga lebih berpeluang," demikian Cecep Handoko. (Rmol)